Dari perspektif orang awam, bukan sebagai seorang pakar agama atau bagian dari kaum intelek, saya melihat keberagaman dalam bangsa Indonesia potensial dalam mengakibatkan terjadinya konflik SARA, di mana yang paling sensitif adalah agama. Konflik agama, baik eksternal maupun internal, sudah terlampau sering terjadi. Setelah membaca pelbagai sumber dan menonton berita, saya mulai berani berasumsi bahwa terkadang konflik agama tak hanya sekadar diakibatkan oleh minimnya toleransi, tetapi juga sebuah fanatisme terhadap agama yang dipeluk. Fanatisme ini yang menurut saya justru cenderung menumbuhkan intoleransi. Silakan sanggah kalau nggak setuju, ini murni pendapat saya saja.

Sungguh sedih melihat agama hanya tampak seperti sekadar tatanan sosial yang mampu memicu fanatisme yang makin hari makin irasional. Memilih dan memeluk agama pada dasarnya adalah hak semua orang. Sekali lagi, beragama adalah pilihan. Yang patut disayangkan adalah saat pemeluk suatu agama bertindak semena-mena terhadap pemeluk agama lain, saling menghakimi mereka yang berbeda, dan kekerasan seolah menjadi solusi mutlak untuk penyelesaian konflik. Tak ada lagi musyawarah mufakat seperti yang saya pelajari bertahun-tahun dalam mata pelajaran PPKN saat menimba ilmu di sekolah dasar.

Individu yang terlampau fanatik tampak berpikir bahwa agamanya yang paling benar. Tanpa disadari, hal itulah yang membuat mereka merasa sah-sah saja untuk menindas kaum yang berbeda kepercayaan. Untung saya bukan Tuhan, kalau iya, pasti saya sedih. Dan malu. Dan nyesel ciptain manusia-manusia ini.

Fanatisme yang berlebihan secara perlahan mengikis kesatuan masyarakat dan terus menimbulkan perseteruan. Padahal, jika umat beragama memang taat pada ajaran agama mereka, semestinya mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga toleransi dan bertenggang rasa dengan kelompok sendiri maupun para pemeluk agama lain. Saya percaya agama-agama yang disahkan pastilah mengajarkan hal baik.

Konflik berbasis fanatisme agama tak bakal selesai jika hanya sebatas mengadakan beragam talk show di TV berisi adu argumen atau adu pengajuan solusi tanpa perwujudan nyata dan pastinya kesadaran pribadi. Jadi ingat sebuah kalimat yang entah pernah saya baca di mana, “your beliefs don’t make you a better person, your behavior does”.

Kata-kata ini pun menjadi hal yang saya camkan untuk diri sendiri agar tidak mudah menghakimi dan berusaha menjadi orang yang lebih baik dalam menjalani kepercayaan saya.

Kéké

3 responses to “Soal Fanatisme Agama”

  1. maak, keren maakk

  2. best quote “Jika saya yang jadi Tuhan mereka, pasti saya sedih. Dan malu.” hahahhaa!

  3. I have been reading out some of your articles and i can claim pretty clever stuff.

    I will surely bookmark your site. https://acecbd.net/

Leave a reply to ljsgljsg Cancel reply